loading...

KUMPULAN PUISI TERBAIK SITUMORANG


kertas surat warna hijau
image Dianne
SURAT KERTAS HIJAU

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
Mengimbau dari seberang benua

Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

PANTAI
Pada F.P. Thomassen

Ibu, telah kulihat pantai
Telah kulihat laut pandai berkata-kata

Telah kulihat kapal enggan berlayar
Serta matahari bersinar

Ibu, telah kulihat tubuh gadis mandi
Jangan kau lagi berkata
Kau mau beranak

Telah kulihat pantai pasir
Membujur dalam diri

Putih sekali

MATAHARI MINGGU

Di hari Minggu di hari iseng
Di silau matahari jalan berliku
Kawan habis tujuan di tepi kota

Di hari Minggu di hari iseng
Bersandar pada dinding kota
Kawan terima kebuntuan batas

Di hari panas tak berwarna
Seluruh damba dibawa jalan

Di hari Minggu di hari iseng
Bila pertemuan menambah damba
Melingkar di jantung kota
Ia merebah pada diri dan kepadatan hari
Tidak menolak tidak terima

JALAN BATU KE DANAU

Lewat Tarutung dan Siantar
ada dua jalan baru
menuju danau
Aku tahu

Lewat Tarutung dan Siantar
ada dua jalan batu
menuju kau

Aku tahu

Dari Taruntung dan Siantar
ada dua jalan rantau
ke pangkuanmu

Aku lalu

Dari Taruntung dan Siantar
ada dua jalan rindu
Teringat kau

Aku tak tahu

AMOY-AIMEE

Terbakar lumat-lumat
Menggapai juga lidah ingin
Api di pediangan

Terkapar sonder surat
Mati juga malam dingin
Lahirnya hari keisengan

Mari, cabikkan malam Amoy
Jika terlalu – ingin malam ini
Besok ada mentari sonder hati

Belum apa-apa hampa begini
Jauh dalam terowongan nadi
Berperang bumi dan sepi

SENJA DI DESA
Buat Bakri + Banda

Senja di desa-desa
Antara kampung-kampung
dan matahari dijunjung
gadis-gadis remaja:
Periuk bundar-bundar
tanah liat terbakar
tempaan tukang tua
matahari senja.

Antara sumber air
dan gerbang perkampungan
terlena jalan pasir
pulang dari pancuran ...
gadis-gadis remaja
Bulan di kepalanya.

DIA DAN AKU

Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali

Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi

Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji

Akan kepermainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari

PESAN RUTH PADA TIAP PERAWAN

Ke mana kau pergi, ke sana aku pergi,
Di mana kau tinggal, di sana aku tinggal
Bangsamu akan menjadi bangsaku,
Tuhanmu akan menjadi Tuhanku.

Aku daging dari dagingmu, Hidup
seia-sekata, dalam suka dan duka,
Tetap bersama kecuali ajal memisah –
Ku-iakan Tuanku, demi perintah Allah.

Hujan dan matahari, musim akan
berganti. Kasihku akan kekal.
Siang dan malam, tahun-tahun pun
berganti. Rambutku saja yang berubah.

Harta? Lihatlah burung di langit
Tak kurang suatu apa. Padanya
Tuhan tak lupa. Pandanglah bunga,
tumbuh di ladang. Demikianlah kita,
dari kasih Allah akan dapat pahala.

LERENG MERAPI

Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu….

NAMA DAN PERTANDA

Dari anakku kuambil nama,
Dari istriku kuambil cinta,
Bagiku jadi pertanda,
Bagiku jadi manna.

Manna yang memberi hidup,
Pertanda yang menyuluh jalan,
Sepanjang malam pengembaraan,
Hidup tak menemukan tujuan.

Di padang pasir kutemukan lagi,
-- Pulang dari pembuangan –
Menuju lembah – telah dijanji,
Seperti Israel menuju Kanaan.

Ke sana aku pulang segera,
Menemui sanak saudara sejati,
Lepas dari perbudakan manusia,
Menuju kebebasan kasih murni.

Telah nampak bukit dan hutan,
Negeri kerinduan di tepi langit,
Melambai dari seberang dengan tangan,
Fajar di atas air menggamit.

Pertanda telah menuntun jalanku,
Manna di gurun menuntun hidupku,
Anakku telah memberi aku manna,
Ibunya telah memberi aku cinta.

DUKA
kepada Chairil Anwar

manakah lebih sedih?
nenek terhuyung tersenyum
jelma sepi abadi
takkan bertukar rupa

atau petualang muda sendiri?
gapaian rindu tersia-sia
tak sanggup hidup rukun
antara anak minta ditayang

sekali akan tiba juga
takkan ada gerbang membuka
hanya jalan merentang
sungguh sayang cinta sia-sia

manakah lebih sedih?
nenek terhuyung tersenyum
atau petualang mati muda
mengumur duka telah dinujum

WEIMAR

sejuta pohon pinus
menyebar harum bumi
di dadanya yang mulus
kucium sepenuh hati

Goethe hanya kenangan
di abad luar jangkauan
Schiller sudah tiada
tinggal musim bunga

Mengorak dari tubuhnya
sepanjang hari

menghimbau cinta
sepanjang malam hingga di pagi

KALIURANG TENGAH HARI

Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut 'manggil aku berlayar dari sini

Tunggulah, aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita bersatu lagi

BARBARA DI PINGGIR SUNGAI HOLLAND

Tak tahu lagi sungainya:
Waal, Maas atau bernama Rijn.
Kapal barang kosong –
angan ikut mudik

ke jantung Eropanya, berpapasan kapal
sarat muatan – hatinya – bersamaku hilir
bermuara di samudra kembara
Atlantik berpadu Pasifik

hidup yang dihidupi
sejauh tualang

musim yang diselami
sedalam rindunya.

Baca: kumpulan Puisi Acep Zamzam Noer

PARIS-JANVIER
..........Kepada clochard*

Di udara dingin mengaum sejarah
Bening seperti es membatu di hati
Ada taman menari di siang hari
Yang luput dari tangkapan malam rebah

Di dasar sungai mengendap malam baru
Mengiang di telinga pekik pemburu
Antara senja dan malam
Merentang luka yang dalam

Inilah Paris, kota penyair
Gua segal;a yang terusir
Laut lupakan sesah
Dalam dekapan satu wajah

Terbawa dari segala mata angin
Berdiang pada cinta, terlalu ingin
Kelupaan sebuah kota
Di mana duka berwujud manusia
Dan bahagia pada manusia tak punya
1953
*clochard (bahasa Perancis): gelandangan

JAKARTA 17 AGUSTUS 45 DINIHARI

Sederhana dan murni
Impian remaja
Hikmah kehidupan
berNusa
berBangsa
berBahasa
Kewajaran napas
dan degub jantung
Keserasian beralam
dan bertujuan
Lama didambakan
menjadi kenyataan
wajar, bebas
seperti embun
seperti sinar matahari
menerangi bumi
di hari pagi
Kemanusiaan
Indonesia Merdeka
17 Agustus 1945

SI ANAK HILANG

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
- laki-laki layak menahan hati -

Anak disuruh duduk bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Semoga kumpulan puisi dari Situmorang memberi anda inspirasi untuk tetap berkarya dalam sastra Indonesia. Baca juga kumpulan Puisi KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)
KUMPULAN PUISI TERBAIK SITUMORANG KUMPULAN PUISI TERBAIK SITUMORANG Reviewed by Ai No Hikari on 7:30 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.