loading...

KUMPULAN PUISI TERBAIK WS RENDRA


kepala raja wali
image Hawk Rajawali
SANGKAR RAJAWALI

Sebuah sangkar besi
Tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit dan di dalam
sangkar besi rajawali merasa pasti
Bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
Adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma tujuh langit,
Tujuh rajawali
Tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
Memandang dunia
Rajawali di sangkar besi
Duduk bertapa mengolah
Hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang
Terjadi dari keringat matahari
Tanpa kemantapan hati rajawali
Mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi membela
Langit dengan setia
Dan ia akan mematuk kedua matamu wahai, kamu,
Pencemar langit yang durhaka

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA

Matahari terbit pagi ini
Mencium bau kencing orok di kaki langit
Melihat kali coklat menjalar ke lautan dan
mendengar dengung di dalam hutan

Lalu kini ia dua penggalah tingginya
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul
Disini memeriksa keadaan

Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna
Kenapa maksud baik bisa berlaga orang
Berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

ya !
Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka
Ada yang duduk, ada yang diduduki
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras
Dan kita disini bertanya :
"Maksud baik saudara untuk siapa? Saudara berdiri di pihak yang mana ?"

Kenapa maksud baik dilakukan
Tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
Tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang
Kota perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja
Alat - alat kemajuan yang diimpor
Tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

Tentu, kita bertanya:
"Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
Sekarang matahari semakin tinggi
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu - ilmu diajarkan disini
Akan menjadi alat pembebasan ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam
Malam akan tiba
Cicak - cicak berbunyi di tembok
Dan rembulan berlayar

Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
Akan hidup di dalam mimpi
Akan tumbuh di kebon belakang

Dan esok hari
Matahari akan terbit kembali
Sementara hari baru menjelma
Pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
Atau masuk ke sungai
Menjadi ombak di samudra

Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera
Ada yang habis, ada yang mengikis
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !

AKU TULIS PAMPLET INI

Aku tulis pamplet ini
Karena lembaga pendapat umum
Ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
Dan ungkapan diri ditekan
Menjadi peng-iya-an

Apa yang terpegang hari ini
Bisa luput besok pagi
Ketidak pastian merajalela
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
Menjadi marabahaya,
Menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi
Maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
Karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore
Di tanganku aku ingin membuat isyarat asap kaum indian
Aku tidak melihat alasan

Kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju atau tidak setuju

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka

Matahari menyinari airmata
yang berderai menjadi api rembulan
Memberi mimpi pada dendam
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah kegamangan
Kecurigaan ketakutan kelesuan

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya
Matahari yang tenggelam diganti rembulan
Lalu besok pagi pasti terbit kembali
Dan di dalam air lumpur kehidupan
Aku melihat bagai terkaca:
Ternyata kita, toh, manusia !

SAJAK ORANG LAPAR

Kelaparan adalah burung gagak yang licik
dan hitam
Jutaan burung-burung gagak bagai
Awan yang hitam

O Allah !
Burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak selalu menakutkan
Kelaparan adalah pemberontakan adalah penggerak gaib
Dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang di bawah wajah laut yang tidur adalah mata air
Penipuan adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu melihat bagaimana tangannya sendiri
Meletakkan kehormatannya di tanah karena kelaparan
Kelaparan adalah iblis
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

O Allah !
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam yang
Memasukkan segenggam tawas ke dalam perut para miskin

O Allah! Kami berlutut
Mata kami adalah mata Mu
Ini juga mulut Mu
Ini juga hati Mu
Dan ini juga perut Mu
Perut Mu lapar, ya Allah
Perut Mu menggenggam tawas dan Pecahan-pecahan gelas kaca

O Allah !
Betapa indahnya sepiring nasi panas semangkuk
Sup dan segelas kopi hitam

O Allah !
Kelaparan adalah burung gagak
Jutaan burung gagak
Bagai awan yang hitam Menghalang pandangku ke
Surga Mu

KENANGAN DAN KESEPIAN

Rumah tua dan pagar batu
Langit di desa sawah dan bambu.
Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya.

Jalanan berdebu
Tak berhati lewat nasib menatapnya.

Cinta yang datang
Burung tak tergenggam
Batang baja waktu lengang
Dari belakang menikam.

Rumah tua
Dan pagar batu.
Kenangan lama
Dan sepi yang syahdu

KANGEN

Kau tak akan mengerti
Bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti
Segala lukaku
Karena luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen
dan sepi itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

PEREMPUAN YANG TERGUSUR

Hujan lebat turun di hulu subuh disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi dan lalu terbayanglah wajahmu, wahai perempupan yang tergusur!

Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu. Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya. Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan, ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur kamu tinggal di gubuk tepi kali dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD menggolongkanmu sebagai tikus got yang mengganggu peradaban.

Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.

Jadi kamu digusur.

Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan sambhil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu. Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin di jidatmu?

O,cendawan peradaban! O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja. Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan, gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

SAJAK SEBATANG LISONG


Menghisap sebatang lisong melihat
Indonesia Raya mendengar 130
juta rakyat dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit fajar tiba
dan aku melihat delapan juta
Kanak - kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya
Tetapi pertanyaan - pertanyaanku membentur meja
kekuasaan yang macet
Dan papantulis - papantulis
para pendidik yang terlepas
dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak - kanak
Menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan
Tanpa pepohonan
Tanpa dangau persinggahan
Tanpa ada bayangan ujungnya

Menghisap udara
yang disemprot deodorant
Aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
Aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

Dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung - gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
Protes - protes yang terpendam
Terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya
Tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidak adilan
terjadi disampingnya dan delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan termangu - mangu di kaki dewi kesenian

Bunga - bunga bangsa tahun depan berkunang - kunang
Pandang matanya di bawah iklan berlampu neon
Berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samudra

Kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
Diktat - diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
Keluar ke desa - desa mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan

MAKNA SEBUAH TITIPAN


Sering kali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipan Nya,
Bahwa rumahku hanya titipan Nya,
Bahwa hartaku hanya titipan Nya,
Bahwa putraku hanya titipan Nya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh- Nya ?
Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah,
Lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,

Seolah "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga kumpulan puisi ini memberi inspirasi. Baca juga kumpulan puisi Bernard Batubara 
KUMPULAN PUISI TERBAIK WS RENDRA  KUMPULAN PUISI TERBAIK WS RENDRA Reviewed by Ai No Hikari on 11:46 PM Rating: 5

9 comments:

  1. https://www.tokopedia.com/hoedi/rendra-dan-teater-modern-indonesia?trkid=f=Ca0000L000P0W0S0Sh00Co0Po0Fr0Cb0_src=shop-product_page=1_ob=11_q=_catid=902_po=24 nitip lapak ya..

    ReplyDelete
  2. walaupun orangnya sudah tiada tapi jiwanya tetap selalu ada dari rangkaian kata indah yang mengalir dalam puisinya.

    ReplyDelete
  3. Saya bangga telah mengenal beliau..
    Damai selalu untukmu Master ❤❤

    ReplyDelete
  4. "Sajak Sebatang Lisong" tetap abadi dan selalu relevan menggambarkan keadaan dunia pendidikan yang nyaris tanpa visi.

    ReplyDelete
  5. Kece .. hanya itu yg bisa ketik
    Tangan ku seketika membisu ketika membaca aksara karya beliau ..
    Rest in peace .. WR RENDRA

    ReplyDelete
  6. Kece .. hanya itu yg bisa ketik
    Tangan ku seketika membisu ketika membaca aksara karya beliau ..
    Rest in peace .. WR RENDRA

    ReplyDelete

Powered by Blogger.