loading...

TEH DAN KOPI OLEH LEILA S.CHUDORI

kopi dan teh di atas meja
image AHA
 Di dalam secangkir teh melati, aku melihat wajah Ibu. Cokelat, keruh, berbintik hitam, tapi tetap menghangatkan. Di dalam bening cair dan harum melati itu, aku melihat Ibu dan segala kesedihannya.

Kerut yang mengelilingi kedua matanya, punggung tangan yang kisut, rambut yang tak lagi bersinar dan mata yang penuh kemarahan dan sia-sia. Dia sudah mulai memasuki usia paruh baya, tetapi garis-garis di wajahnya adalah hasil dari malam-malam yang dilalui tanpa tidur; tanpa Ayah dan tanpa keinginan untuk memaafkan diri sendiri.

Marah, karena Ibu masih saja menyalah-nyalahkan diri bagaimana dia membiarkan kabut menutupi kejernihan berpikir, kepekaan penglihatan dan ketajaman sarafnya hingga selama belasan tahun ia tak menyadari kerapuhan perkawinannya. Seperti lemari buku kami yang kokoh, yang diam-diam digerogoti jutaan rayap hingga hancur, perkawinan Ayah dan Ibu yang tampak kuat itu mendadak runtuh. Begitu saja. Belasan tahun sejak Ayah pergi meninggalkan kami, Ibu masih saja menyesali kebodohannya untuk membaca tanda-tanda. Tanda apa, aku tak pernah paham hingga aku dewasa.

Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan nikmatnya kopi tubruk dari Ayah. Ibu memperkenalkan teh sejak aku masih kanak-kanak sebagai ‘minuman penghangat perut sesudah sarapan pagi’, wangi melati yang sekilas namun menetap di bibir yang kemudian merembes ke lidah itu, di antara kewajibanku minum susu segelas sebelum berangkat sekolah.

Setelah aku berusia 10 tahun, barulah Ayah mengizinkan aku berkenalan dengan pahitnya rasa kopi sebagai bagian dari keasyikan hidup, bagian dari rutinitas yang akan menentukan suasana hati Ayah untuk 24 jam ke depan. Sebelumnya, karena Ayah dan Ibu tampaknya khawatir tubuh kecilku belum kuat menyangga kafein, aku hanya boleh menghirup aroma kopi tiap kali Ayah menyeduhnya.

Aroma kopi tubruk Ayah begitu kuat karena aku bisa menciumnya tiap kali ia menggelitikku, membantu pekerjaan rumahku atau saat ia mencium pipiku sebelum aku tidur. Bau ciuman Ayah ke pipiku itu adalah bau kopi hitam: harum yang menguasai ruang yang tak mudah pergi.

Ketika perlahan aku mulai mengenal kehidupan kopi dari Ayah, aku juga lebih mengenal kehidupan bisnis kedua orang tuaku: jual-beli barang antik. Rumah kami di Jalan Seroja adalah sebuah rumah tua, salah satu rumah milik orang tua Ibu yang dihibahkan kepada Ibu yang memiliki paviliun yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah utama. Ayah memutuskan agar tidak melakukan perubahan apa-apa terhadap rumah tua yang berlangit tinggi dan masih berlantai keramik putih biru yang disebut Ibu sebagai keramik peninggalan kolonial itu.

Di dalam paviliun, aku akrab dengan berbagai benda antik dari kayu jati, suasa, kuningan, keramik dan porselen. Di tiap pojok aku mengenal meja rias perempuan tiga cermin, meja rias dengan sembilan laci lengkap dengan bandul kuningan; meja kerja Eyang (itu nama yang kuberikan padanya) berlaci kecil 16 buah untuk menyimpan surat-surat rahasia; lemari baju dengan cermin atau tanpa cermin. Lalu ada peti kayu jati dalam pelbagai ukuran dan keperluan: peti kecil, peti sedang, peti besar, peti raksasa yang bisa melahap setengah ruangan, semuanya tersebar di paviliun sebelah rumah yang disulap Ayah menjadi toko antik.

Menginjak usiaku yang ke-10, paviliun bukan hanya tempat aku menyaksikan transaksi benda antik dan tingkah laku pembelinya, tetapi sekaligus menjadi sebuah suaka, sebuah tempat perlindunganku. Pada saat rumah berubah menjadi neraka, maka aku akan bersembunyi di paviliun, berkonsentrasi menatap benda-benda antik itu sambil membayangkan sejarah benda-benda itu satu per satu diiringi musik dari piringan hitam.

Aku mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali rumah besar kami masih menjadi tempat yang nyaman dan aman bagiku. Aku sudah lupa. Aku hanya ingat rumah besar itu pernah menjadi tempat di mana kami masih rutin menikmati sarapan roti bakar dan telur ceplok setengah matang untuk Ibu dan telur dadar gulung untuk Ayah. Secangkir teh melati untuk Ibu dan secangkir kopi untuk Ayah, sedangkan aku secara bergantian menikmati menu Ibu atau Ayah sembari minum susu cokelat.

Aku memang sengaja tak ingin mematok kesukaanku hanya pada teh Ibu atau kopi Ayah. Untuk memagari diriku dari suara berisik kompetisi Ayah dan Ibu, aku memilih susu cokelat atau susu putih dingin. Sesudah mengusap susu dari bibirku, aku berangkat ke sekolah dengan Bang Humam, abang becak langganan kami dan kembali ke rumah tepat pukul 12, menemui Ayah atau Ibu yang biasanya tengah meladeni pembeli. Om Awan membantu mereka sembari sesekali duduk di belakang kasir menghitung pembukuan.

Ah, Om Awan.

Aku lupa bagaimana Om Awan hadir dalam kehidupan kami. Tiba-tiba dia begitu saja muncul sedini lahirnya toko antik Seroja. Semula aku mengira Om Awan adalah juru masak di rumahku, karena dia sering sekali membuat kue atau memasak makanan kesukaan Ibu di dapur jika pengunjung toko agak sepi.

Begitu seringnya ia membuat kue bolu, kue nanas, kue pisang atau kue lapis legit, Om Awan selalu meninggalkan aroma vanilla yang manis di udara. Belakangan aku paham, secara resmi Om Awan adalah pegawai orang tuaku yang mengurus luar-dalam toko Seroja. Secara tidak resmi, Om Awan adalah sahabat orang tuaku yang kerjanya menjadi wasit tiap kali terjadi perpecahan perang. Mereka bertiga seperti trio yang tak mungkin berfungsi jika salah satu hilang dari peredaran.

Tak saja Om Awan fasih mempelajari sejarah tiap benda antik yang akan dijual dan oh, sungguh tubuhnya yang jangkung itu penuh sesak dengan pengetahuan segalanya di dunia: sejarah, sastra, seni rupa, antropologi, filsafat. Ia juga seorang lelaki yang bersih dan rapi. Aku paham betul mengapa Ayah --yang sangat ketat dalam soal kerapian dan kebersihan-- tergantung pada Om Awan yang mampu mengorganisasi seluruh toko sekaligus rumah tangga orang tuaku dengan tingkat organisasi yang tinggi, bersih, dan persis.

Jika beberapa toko antik di Jalan Surabaya dan Ciputat Raya hampir selalu seperti gudang yang penuh dengan benda tua, maka Om Awan berhasil membuat paviliun itu menjadi seperti sebuah butik kecil asri di mana para pembeli merasa nyaman untuk duduk bercengkerama setelah membeli satu atau dua benda antik. Pada saat itulah Om Awan akan menawari mereka untuk menikmati teh atau kopi. Tak pernah limun, atau sari buah. Teh atau kopi. Dan tentu saja kue-kue buatan Om Awan.

Seperti siang itu, setelah memilih barang yang akan mereka beli, sembari duduk di kursi Betawi di teras paviliun, dua orang tante paruh baya itu menatap kebun kecil yang dipelihara Ibu: melati, mawar, melati, mawar serba putih dan bersih.

Saat Om Awan membawakan kopi atau teh, apa pun yang dipesan oleh kedua tante cantik, aku ingat betul, dua pasang mata itu mengamati sosok Om Awan dengan lekat. Memang tak mudah untuk menepis kehadiran Om Awan: jangkung, rambut yang tebal, beralis mata tebal, mata yang bulat bersinar, dan sepasang tangan dengan jari panjang putih itu akan meletakkan cangkir satu per satu sembari mempersilakan mereka minum.

Saat Om Awan pergi, dia meninggalkan aroma vanilla. Semua, lelaki, perempuan, baik tua, muda, berusia tante atau masih remaja seolah ingin mengisap rasa vanilla dari tubuh Om Awan. Bayang-bayang Om Awan dan aroma vanilla itu masih berkelebat hingga kini, bercampur dengan aroma teh melati dan kopi tubruk.

Aku tak pernah heran jika para pelanggan, terutama para perempuan muda dan ibu cantik paruh baya makin rajin berkunjung meski sekadar membeli kotak perhiasan antik atau piring makan peninggalan kolonial untuk tujuan tersembunyi. Tentu saja mereka datang karena menyukai koleksi antik toko Seroja, senang berbincang dengan Ayah dan Ibu yang pandai meladeni tamu sambil menyuguhkan teh melati atau kopi tubruk serta kue bolu merah jambu.

Tapi, aku selalu teringat bagaimana mereka sama sekali tak malu menyimpan rasa kagum pada tubuh tinggi Om Awan dan begitu saja mengisap bau vanilla yang ditinggalkannya usai meletakkan teh atau kopi pesanan mereka. Bayangkan, bau melati teh yang lembut atau aroma kopi yang merubung penciuman dengan ketat terkalahkan oleh bau vanilla dari tubuh Om Awan. Bayangkan dua perempuan cantik, mungkin berusia 45 tahun, yang terperangah hingga Om Awan menghilang ke balik pintu.

“Semoga dia belum menikah...,” kata tante nomor satu. Celana cutbrai, blus kembang hanya mencapai pusar, kulit putih seperti pualam, riasan mata yang hitam dan tebal dan jari-jari panjang lentik. Jari-jari itu lantas mengaduk cangkir teh.

“Kalaupun sudah kawin, itu tak pernah menghalangimu,” kata tante nomor dua. Celana jins. Kaus T-shirt ketat. Suara berat. Rambut lurus diikat dan mengilat, ada sejumput rambut yang menutup dahinya yang lebar. Riasan minim dan matanya bagus tanpa riasan. Dia juga menghirup teh.

Kedua penggemar teh dan penggemar Om Awan itu tersenyum. Mereka baru menyadari kehadiranku di balik gentong antik biru yang tampaknya tak akan pernah dilepas Ayah karena menurut dia semua barang antik yang berusia sebelum tahun 1830 adalah benda antik tulen. Bagaimana Ayah mendeteksi soal tahun itu, aku tak pernah mencari tahu.

“Hai… sini….”

Perlahan aku mendekati tante nomor dua yang sangat harum itu. Dia menarikku dan membelai rambutku yang berantakan. Dia mengatakan pastilah aku putri pemilik toko antik ini karena wajahku, menurut dia, sangat mirip ayahku. Tante nomor satu setuju dan menggigit kue bolu merah jambu buatan Om Awan. Bibirnya tebal dan merah.

“Siapa namamu, cantik?”

“Jasmina.”

“Pasti nama pemberian ibumu ... kelas berapa Jasmina?”

Aku mengacungkan lima tangan.

Tante nomor satu mengeluarkan sebatang rokok, “Ibu bilang tidak boleh merokok di sini...,” kataku cerewet. Aku mendadak tidak menyukai tante nomor satu.

Tante nomor dua menarikku dan mencium pipiku. Dia sungguh harum. Dan harum itulah yang segera saja berpindah begitu saja ke tubuh Om Awan di hari-hari berikutnya. Siang. Malam. Harum tante nomor dua itu hampir saja mengalahkan aroma vanilla ketika di suatu hari Om Awan menghindar dari drama pertengkaran Ayah dan Ibu yang begitu besar.

Om Awan segera mengajakku ke paviliun dan memasang pelat hitam lagu Have you Ever Seen the Rain dari Creedence Clearwater Revival, karena Ibu pernah mengatakan selalu saja ada kilatan cahaya matahari pada butiran hujan yang turun. Itu adalah keajaiban dalam hidup meski dalam keadaan gelap sekalipun. Ibu mengatakan suara dan gitar Joan Jett jauh lebih bagus sebetulnya saat menyanyikan lagu yang sama. Jadi kami sering mendengarkan lagu ini bergantian antara CCR dan Joan Jett.

Dari jauh aku mendengar suara Ayah makin meninggi, suara Ibu menangis, lantas buku-buku beterbangan. Aku pernah membahas masalah ini dengan Om Awan: apakah lebih baik mereka saling lempar piring atau buku-buku sastra milik kami. Aku memilih kehilangan piring daripada buku. Om Awan mengatakan itu tergantung apakah itu piring antik keluaran kolonial dan apakah buku itu cetakan pertama penerbit Eropa yang bernilai sejarah. Aku jengkel karena tak bisa menjawab. Untukku buku adalah buku. Dia lebih berharga daripada piring atau gelas yang bisa kami beli lagi.

Buku lebih berharga karena pada saat membaca, baik Ayah, Ibu atau aku memberi garis bawah, komentar pada sisi buku atau menyelipkan berbagai kertas atau memo yang berisi pendapat kami tentang bab tertentu. Buku memancing kita untuk berdebat dengan penulis buku itu; atau dengan diri sendiri. Pada usia semuda itu, Ibu dan Bapak sudah melatih aku seperti seorang pembaca yang kritis dan tajam. Mengapa Ayah tidak melempar piring, atau guling atau pot kembang saja?

Suara Ayah makin menggelegar. Om Awan mengeraskan volume piringan hitam hingga lagu itu memenuhi seluruh paviliun. Dia memasak air panas di dalam teko bersiul, teko yang bakal berisik jika air sudah mendidih. Siulan itu tetap saja tak mampu mengalahkan jeritan Ibu dan bentakan Ayah. Aku mencoba menatap kotak perhiasan kecil yang terbuat dari keramik. Mencoba konsentrasi kapan dan di mana Ayah memperoleh kotak itu. Keriuhan pertengkaran orang tuaku tetap saja menerobos dinding paviliun, mengalahkan musik dan siulan teko. Om Awan memelukku. Dan pada saat itulah aku mencium harum minyak wangi tante nomor dua. Tante berambut lurus dan nyaris tidak mengenakan riasan itu.

Di pagi hari, keesokan hari, kulihat wajah Ibu yang putih sudah bertambah beberapa bercak tua, persis seperti sisa daun teh pada dasar cangkir.

****

“Aku mau protes, Ayah...,” kataku, sambil mencoba memperbaiki dan mengusap-usap halaman novel Tale of Two Cities yang koyak karena sehari sebelumnya Ayah melemparnya ketika sedang bertengkar dengan Ibu, ”Ini buku kesayanganku… aku mencatat komentar-komentarku di pinggir buku. Bisakah Ayah melempar barang lain jika sedang marah?”

Ayah memandangku. Kedua matanya jelas memperlihatkan rasa sesal. Tapi aku tahu, rasa sesal Ayah berusia pendek. Oh, dan buku-buku Ibu. Buku-bukuku. Aneh sekali kenapa Ayah tak pernah melempar bukunya sendiri.

“Maafkan Ayah, Nak….”

Dia memelukku seerat-eratnya. Bau kopi Ayah meruap dari seluruh pori-porinya. Ayah tak akan perlu minyak wangi apa pun karena bau kopi ini sudah identik dengan bau tubuhnya.

“Kenapa Ayah tidak melempar barang lain saja, sih? Atau lebih bagus lagi, jangan melempar apa pun...,” kataku, sambil mencoba merekatkan halaman-halaman yang sobek itu dengan selotip. Halaman yang sobek ini memang masih bisa direkatkan, tapi hatiku sukar sekali sembuh melihat buku-buku yang koyak ini.

Ayah tidak bisa menjawab. Dia mengelus-elus halaman-halaman yang sedang kurekatkan itu.

“Atau lempar saja piring atau gelas, Yah. Jangan buku-buku ini...,” kataku, hampir menangis. “Tapi...,” Ayah mendongak melihat piriing-piring antik yang digantung kedua orang tuaku di dinding, ”kalau piring itu piring antik… sayang juga ya, Nak….”

Hmm....

“Jawaban Ayah persis seperti jawaban Om Awan,” kataku menggerutu.

“O,ya?”

“Ya.”

Ayah mengambil selotip dan gunting, dan membantu merekatkan buku-bukuku dan buku Ibu yang rusak dan koyak. Berkaca-kaca matanya dia mengucapkan maaf kepadaku. Aku tidak menjawab apa-apa.

Baca: Cerpen Salju Gurun

***

Setelah dewasa, aku sempat berpikir, sebetulnya Ayah dan Ibu adalah pasangan yang sempurna. Keduanya menyukai hal yang sama: benda antik, arsitektur, sejarah, sastra, musik dan makanan yang memiliki asal-usul yang unik. Keduanya adalah pasangan intelektual yang menikah di tahun 1960-an, sarjana lulusan luar negeri (Ibu lulus dari pendidikan tinggi Inggris, Ayah menempuh pendidikan di Belanda) yang kritis terhadap pemerintah; mengikuti semua peristiwa dengan berlangganan surat kabar dan jurnal sejarah.

Kehidupan mereka diabdikan untuk menyusuri sejarah benda-benda antik, gedung peninggalan kolonial dan ratusan buku-buku sastra dan sejarah yang bergelimpangan di rumah dan paviliun kami. Dan dari lautan buku itulah, sejak usia sangat dini aku berkenalan dengan tokoh-tokoh dan cerita Mahabharata, Ramayana, semua cerita Panji, semua cerita sejarah dan legenda hingga buku-buku sastra Barat. Pada saat Ibu dan Ayah mengundang kawan-kawannya, para sejarawan, kolektor benda seni rupa, perupa, sastrawan, wartawan untuk makan malam masakan Ibu atau Om Awan di rumah sembari menikmati anggur, aku diperbolehkan ikut makan bersama mereka hingga pukul 9 malam. Pada saat mereka menyajikan makanan pencuci mulut, teh atau kopi, aku sudah harus berada di tempat tidur dan diam-diam membaca komik Mahabharata di bawah selimut dengan bantuan cahaya senter.

Aku sudah tahu dan bisa membayangkan yang terjadi di dapur: Ibu akan melalui sebuah ritual serius untuk membuat teh bagi para tamu. Dibantu Om Awan, Ibu memasak air hingga mendidih, kemudian air yang berkepul itu dituangkan dan membilas seluruh dasar teko keramik putih berbunga biru pemberian Eyang.

Teko yang masih berisi air yang masih mengepul itu kembali diletakkan Om Awan dimasak hingga mendidih. Lantas, barulah Ibu menuang beberapa sendok kecil daun teh ke dalam teko yang kemudian disambar oleh kucuran air mendidih. Itulah upacara pembuatan teh yang dilakukan Ibu atau Om Awan, pagi atau sore, atau bahkan malam hari sesudah makan.

Untuk ulang tahun Ibu, Om Awan pernah memberi hadiah satu set teko teh kuno, sebuah teko mungil keramik berwarna ungu berbunga kuning lengkap dengan enam cangkir kecil yang kemudian dikoleksi oleh Ibu bersama-sama teko-teko antik yang diberikan oleh Ayah, orang tua Ibu dan para sahabat Ibu. Ibu menggunakan teko itu secara bergantian. Tetapi, teko yang paling sering digunakan adalah pemberian Om Awan karena, menurut Ibu, teko itu memiliki lubang saringan yang tepat untuk menghalangi tumpukan teh curah dan meloloskan kucuran air teh yang bercahaya, yang diminum Ibu sembari mata terpejam seperti seluruh persoalan dunia berhasil diredam. Untuk Ibu, teh adalah minuman serba guna. Bisa menjadi medium ketenteraman dalam keadaan sendiri. Bisa pula menjadi medium sosialisasi.

Sementara, Ayah dan kopi adalah lambang hubungan yang soliter. Ia selalu membuat kopi dengan mandiri, memasak air sendiri dan menyeduh kopi sendiri dan menghirup serta menikmatinya sendirian sehingga satu-satunya yang beraroma kopi dari pagi sampai malam hanyalah Ayah. Di sebelah kiri dapur, terletak aneka stoples berisi koleksi kopi Ayah dari berbagai daerah di Indonesia; sedangkan di sebelah kanan adalah deretan kaleng yang berisi berbagai rasa dan aroma teh milik Ibu.

Teh atau kopi, untuk waktu yang lama hidup berdampingan dengan damai di rumah Seroja. Itulah gambaran yang selalu kubingkai untuk beberapa saat.

Setelah aku duduk di sekolah menengah, barulah kusadari bahwa kedua orang tuaku adalah pasangan terburuk dan orang tua yang paling disfungsional yang pernah kukenal, paling tidak jika kubandingkan dengan orang tua kawan-kawan sekolahku.

Aku tak pernah tahu masalah apa sesungguhnya yang menjadi tembok tebal di antara mereka dan aku juga tak pernah memahami mengapa mereka tak bisa menyelesaikan perbedaan mereka tanpa harus menjerit atau mengorbankan isi perpustakaan kami yang kusayangi itu. Di hadapan umum, mereka adalah pasangan sempurna. Tetapi, di rumah dan di toko Seroja, di lingkaran keluarga dan kawan-kawan, pastilah bukan aku saja yang merasakan ketegangan yang mengiris saraf. Pada saat-saat kritis Ibu dan Ayah baru saja bertengkar entah karena keuangan, atau mungkin karena keengganan Ibu menghadiri sebuah acara penting atau karena Ayah tak sepakat dengan diskon yang diberikan Ibu pada beberapa benda antik yang terjual hari itu, atau… ini yang paling sering terjadi: Ibu mencurigai Ayah memiliki kekasih.

Aku tak tahu tanda-tanda apa yang menyebabkan Ibu sering mencurigai Ayah. Aku hanya tahu pada awal pertengkaran mereka dengan topik ‘kekasih gelap’ ini, Om Awan segera mengatasi perdebatan itu dengan menawarkan secangkir teh dan kopi. Sekejap, kedua orang tuaku menahan aneka kata-kata tajam di tenggorokan mereka. Saat itu, aroma teh melati dan kental kopi tubruk masih bisa menjadi peredam suasana.

Suatu siang, pertengkaran antara Ayah dan Ibu terjadi karena Ayah menghilang sepanjang akhir pekan entah ke mana. Semula Ibu menyangka Ayah memang tengah mengulik beberapa barang antik ke Solo dan Yogya. Ternyata, Senin pagi, Ayah mengaku tak membeli apa-apa dan pergi menyepi untuk ‘berpikir dan merenung’.

“Berpikir dan merenung?” Ibu seperti tak tahu apakah dia harus terkejut, marah, atau merasa harus memperoleh informasi yang lebih solid untuk boleh meledak.

“Berpikir dan… merenung?”

Ayah tidak menjawab. Tidak berkata-kata. Seperti biasa, sebagaimana yang kami kenal, Ayah bukan seseorang yang butuh banyak kata untuk bisa menaklukkan atau menekan seseorang. Ayah tahu, dengan kebisuannya, dia bisa membuat Ibu atau aku tunduk bukan karena kami setuju apa yang diperintahkannya, tetapi karena kami tak ingin mendengar bentakannya. Maka, cara Ibu untuk memahami apa yang tengah berkecamuk dalam kebisuannya itu adalah dengan menyodorkan secangkir kopi panas sembari bertanya selembut mungkin. Pada saat seperti itu, aku sudah terlatih oleh Om Awan untuk perlahan menyingkir ke paviliun. Sayup-sayup aku mendengar Ayah menjawab pertanyaan Ibu yang melibatkan kata ‘jati diri’, ‘kejujuran’, ‘identitas’, dan kata-kata besar semacam itu.

Perlahan aku memasang piringan hitam itu lagi. Tentang hujan. Tentang siraman cahaya yang meluncur di antara kucuran hujan. Tentang butir-butir berwarna. Tentang semua kesunyian sejenak yang kemudian akan disusul dengan serangkaian badai.

****

“Tahukah kamu bahwa Drupadi pun pernah merasa cemburu terhadap Subadra?”

Itu kalimat yang dilontarkan Om Awan kepada Ibu suatu siang ketika lagi-lagi Ayah menghilang bersama bau kopinya. Beberapa saat Ibu terdiam, menatap permukaan warna cokelat cairan teh melati di hadapannya. Aku menemani Ibu duduk menggarap pekerjaan rumahku. Aku melirik Ibu yang tak menjawab pertanyaan Om Awan. Ibu hanya menggelengkan kepala.

Lalu Om Awan menceritakan sebuah bagian yang tak kutemukan pada komik wayang Mahabharata yang diceritakan R.A Kosasih. Bahwa Drupadi bersuami lima Pandawa bersaudara. Bahwa di masa ‘hukuman’ Arjuna --saat itu aku tak terlalu tahu kenapa dia dihukum-- kesatria pemanah terkemuka itu berkenalan dengan Subadra dan menikah dengannya. Aku merasa ruwet dengan cerita itu. Bagaimana itu bisa terjadi, aku tidak paham karena saat itu masih duduk di kelas enam sekolah dasar. Tetapi, diskusi ini melekat di dalam kepala karena kelak hingga dewasa, aku menggenggam kisah Mahabharata dan Ramayana seeratnya di dalam tubuh dan jiwaku.

“Lalu?”

Tampaknya Ibu tertarik setelah cerita itu. Om Awan mengeluarkan kue lapis. Aku bisa mencium vanilla yang begitu kaya. Om Awan tidak pernah menggunakan bubuk atau larutan vanilla. Dia pasti menggunakan vanilla batangan yang kemudian dia serut sarinya. Sungguh harum. Sembari memotong kue lapis itu, aku memperhatikan betapa rapinya garis-garis kue lapis itu, sementara Om Awan bercerita dengan fasih tentang Arjuna yang pulang dari berkelana. Pemanah tampan andalan Pandawa itu berupaya memperkenalkan istrinya yang baru, Subadra, kepada Ibu Kunti dan keempat saudara-saudaranya. Drupadi, sebagai istri Pandawa bersama, sungguh terpukul oleh perkawinan itu dan menyembunyikan diri di dalam kamarnya. Dia menolak bertemu dengan Arjuna dan Subadra.

“Bukankah Drupadi juga mempunyai empat suami yang lain?” demikian Ibu menyela sambil memberikan sepotong kue lapis kepadaku. Oh, sepotong surga....

Om Awan tersenyum memandang Ibu. Menurutku, Om Awan memang lelaki paling tampan, apalagi jika dia tersenyum, kedua matanya ikut berkilat. “Cemburu adalah sebuah perasaan kepemilikan yang lahir begitu saja. Tak bisa diprediksi kelahirannya, tapi bisa diatur dan bisa disiasati agar tak mencederai hubungan,” katanya. Aku tak terlalu paham ucapan itu. Aku hanya ingat bagaimana Om Awan mengucapkannya dengan lancar dan nada yang menekan.

Dia melanjutkan ceritanya, bagaimana Kunti menasihati Subadra agar mengenakan baju yang tak terlalu gemerlap sebelum bertemu Drupadi. “Selama ini dia selalu menjadi yang tercantik dalam keluarga kami, tolong pahami,” kira-kira demikian saran sang Ibu. Maka Subadra mengenakan pakaian yang sangat sederhana dan polos. Dia bertemu Drupadi yang cemerlang dan kulitnya berkilat-kilat itu. Drupadi pun jatuh hati seketika dan langsung memeluk Subadra. Mereka berbincang dengan penuh kasih ketika Arjuna akhirnya bergabung.

“Pada saat itu, Subadra perlahan mengundurkan diri,” kata Om Awan, menuang teh ke dalam cangkir Ibu, “dan Arjuna mengutarakan bahwa Drupadi tetap cintanya yang pertama dan utama.”

“Dan mereka pun bercinta...,” Ibu menjawab, tersenyum menatap Om Awan. Om Awan pun mengangguk. Matanya tersenyum. Aku bisa mencium aroma vanilla di udara. Setelah menanjak usia remaja, barulah aku memahami diskusi ini adalah cara Om Awan menyarankan Ibu untuk mengatasi rasa cemburunya agar hubungannya dengan Ayah lebih tenteram.

****

“Jadi... kamu pacaran dengan Davina?” tanya Ibu kepada Om Awan di suatu siang, ketika kami mempersiapkan kedatangan rombongan turis Australia. Om Awan tertawa. Ayah mengerutkan bibirnya. Senyum Om Awan menghilang seketika.

“Dia cantik. Tapi jangan hanya tidur dengan dia, dong. Dibuat serius. Kamu sudah terlalu lama membujang,” Ibu memberondong terus, tidak menyadari wajah Ayah yang makin kusut.

Om Awan menjawab bahwa dia hanya berkawan dekat dengan Davina, tante cantik nomor dua yang rajin datang ke paviliun.

“Tetapi sudah jelas Davina datang bukan hanya untuk membeli benda antik,” kata Ibu tersenyum, “dia sekarang terang-terangan datang untuk menemuimu.”

Makin Ibu menggoda, Ayah makin meradang. Dia berberes buku-buku sembari sekaligus menyentak dan membanting. Kasihan sekali buku-buku itu.

Om Awan buru-buru menjawab bahwa tante cantik nomor dua yang harum itu bukan tipe dia. Ibu membalas perempuan macam apa tipe dia, karena siapa tahu Ibu mempunyai kawan yang bisa dijodohkan dengan Om Awan. Om Awan tidak menjawab. Ayah meninggalkan ruangan dan membanting pintu kamar. Bunyi lonceng kecil dari pintu paviliun memotong pembicaraan siang itu. Rombongan tamu dari Australia yang sudah sejak kemarin menelepon kami kini tiba untuk memborong benda antik. Om Awan dan Ibu segera menemani para tamu untuk melihat isi toko Seroja.

***

Di suatu pagi yang basah, ketika langit Jakarta terus-menerus mengucurkan persediaan airnya, aku bangun dengan perasaan kosong. Hampa. Tak ada bau teh melati, atau kopi tubruk yang kental. Tak ada bau telur dadar gulung atau roti bakar. Kamar tengah tampak layu tak bernyawa. Ibu berdiri di dapur membelakangiku.

Pagi yang ganjil. Seharusnya Ayah ada di antara kami membuat roti bakar atau menyeduh kopi. Dan tanpa penjelasan apa-apa, aku tahu, di usiaku yang ke-15, tepat sebelum aku menempuh ujian sekolah menengah, Ayah meninggalkan kami selama-lamanya, entah ke mana. Mungkin bersama kekasihnya. Mungkin membentuk keluarga baru. Atau membangun toko antik baru. Aku tak tahu dan tak ingin mendengar penjelasan Ibu yang lemah lembut yang jauh dari kata-kata yang mendiskreditkan Ayah.

“Ayah dan Ibu akan selalu menyayangimu sebagai orang tua. Ayah butuh berjauhan dengan Ibu karena kesalahan kami berdua, tetapi itu tak mengurangi tanggung jawab kami sebagai orang tua.”

Persetan!

Bertahun-tahun lamanya, aku menjadi anak perempuan pemarah, mudah merajuk dan menyentak siapa saja yang berupaya meluruskan caraku berpikir. Tetapi, seluruh kemarahan kutumpahkan pada Ibu, meski di dasar hati lapis terbawah aku tahu tak seyogianya aku memperlakukan Ibu sebagai sasaran tinju emosiku. Aku tak tahu apakah aku murka karena aku tak pernah melihat Ayah di antara para orangg tua saat wisuda SMP, SMA, dan kesarjanaanku, atau karena aku tak pernah paham apa yang terjadi. Rasanya tak ada yang merasa perlu menjelaskan dengan gamblang ke mana ayahku menguap. Bahkan ketika kedua orang tua ibu, para eyang, mencela Ayah tak berkesudahan, Ibu masih saja membela Ayah yang ‘ingin menjadi diri sendiri’. “Bagaimana kau masih bisa membela orang yang menghina akal sehat?” demikian Eyang Kakung mencela dengan marah. Eyang Putri hanya mempersoalkan bagaimana Jasmina, sang cucu, akan tumbuh tanpa seorang ayah. Ibuku menjawab bahwa Ayah tak pernah meminta dirinya dilahirkan seperti itu. Seperti ‘itu’? Apa gerangan maksudnya?

Aku ingat, Om Awan mengundurkan diri dari toko Seroja dan dari kehidupan kami, hanya beberapa bulan setelah Ayah menghilang. Dia ingin meneruskan pendidikan pascasarjana antropologi, mungkin di Yogyakarta atau di Bandung. Itu penjelasan resmi Ibu. Tapi, aku merasa Ibu menyembunyikan sesuatu, karena kepergian Om Awan juga mendadak. Begitu saja. Aku sudah mulai terbiasa orang-orang meninggalkanku tanpa pamit.

Mungkin itu sebabnya, aku mempunyai hubungan yang ruwet. Aku selalu menyalahkan Ibu untuk merusak kenyamanan hidup keluarga kami. Meski mereka sering bertengkar, aku tetap lebih suka memiliki orang tua yang lengkap. Pada saat yang sama aku begitu ketakutan kehilangan Ibu, aku menjadi sangat posesif terhadap Ibu dan tak pernah mampu mempertahankan hubunganku dengan lelaki mana pun. Bagiku, ada dua lelaki penting dalam hidupku menghilang seenaknya. Maka, hanya Ibu satu-satunya orang yang bisa kuandalkan dan kupercaya dalam hidup ini.

Dengan segala rasa luka dan kemarahan, diam-diam aku tetap kangen dengan bau kopi dan aroma vanilla di sekitar rumahku. Tapi, aku tak pernah mengucapkan apa-apa tentang kerinduan ini. Aku bahkan tak pernah menyeduh kopi atau menikmati kue bolu dan kue lapis apa pun karena tak ingin membuat Ibu makin menderita. Dia bekerja mencari nafkah dengan mengurus toko Seroja sendirian karena tak ingin lagi memiliki asisten yang membuat dia terlalu lekat seperti dirinya pada Om Awan, yang kemudian meninggalkan kami semua.

***

Menjelang ujian akhir SMA, Om Awan muncul begitu saja. Berdiri di depan pintu paviliun. Tinggi, bersinar, tampan dan segalanya. Dia memandangku dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu sudah besar, Jasmina,” dia berbisik. Aku menjadi patung. Tak bergerak, tak bernapas. Mengapa Om Awan berdiri di pintu?

Om Awan bercerita secara berlompatan bahwa dia sudah selesai menyelesaikan pascasarjana dalam bidang antropologi. Aku agak lupa judul tesisnya, karena masih terpaku. Yang kuingat dia bercerita tentang petualangannya menyusuri beberapa kota kecil di Jawa Tengah dan menemukan berbagai barang antik, menemukan beberapa pojok di Yogyakarta dan Bali yang menjual toko buku bekas karena ‘para turis biasanya meninggalkan buku-buku yang sudah dibaca dan tak mau membawanya kembali di dalam koper’.

Di antara celotehnya yang kian kemari dan tak beraturan itu, sesuatu yang aneh karena Om Awan biasanya sangat fasih dan teratur, akhirnya dia menyadari aku sama sekali belum mengucapkan sepatah kata pun. Om Awan mendekat, dan duduk di sampingku. Menanyakan keadaan Ibu.

Setelah mengumpulkan napas, akhirnya aku mencoba menjawab: tiap tahun aku bisa menghitung jumlah bintik hitam pada wajah Ibu. Kulit wajah Ibu yang semula putih pualam kini penuh dengan burik seperti dasar cangkir Ibu yang berisi daun teh yang basah. Aku juga menceritakan secara singkat bahwa Ibu menganggap kerapuhan perkawinannya sama seperti lemari buku kami yang mendadak ambruk digerogot ribuan rayap. Rayap: tak terlihat kasatmata, tetapi mampu menghancurkan segalanya.

Om Awan menatapku dan air matanya mengucur. Dia mengusapnya dengan kasar. Air matanya mengalir lagi, agak terisak dia mengucapkan betapa dia berdosa pada ibuku. Aku tak paham mengapa dia merasa berdosa hanya pada ibuku. Bukankah Om Awan meninggalkan kami semua, meninggalkan rumah Seroja? Ketika aku mencoba menenangkannya, tiba-tiba saja Om Awan memelukku erat-erat. Bahuku menjadi basah oleh air mata Om Awan. Pada saat itu, aku mencium aroma masa lalu. Aroma kopi tubruk yang kental. Sejak kapan Om Awan menyukai kopi?

Dari balik jendela paviliun, hujan tumpah begitu deras. Om Awan masih terisak di bahuku. Bau kopi tubruk itu makin deras menyerang cuping hidungku.

Terima kasih sudah berkunjug. Semoga mengispirasi anda. Cerpen Teh dan Kopi pernah terbit di majalah Femina. Baca  juga cerpen Jantung Hati
TEH DAN KOPI OLEH LEILA S.CHUDORI TEH DAN KOPI OLEH LEILA S.CHUDORI Reviewed by Ai No Hikari on 7:21 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.