loading...

CERPEN KAFE OLEH WENDOKO


perempuan menunggu di kafe
image
Perempuan itu di depannya—di balik laptop yang terbuka, dan secangkir kopi yang mengepulkan uap tipis.

Ia baru menyadari dua puluh menit kemudian—sejak ia masuk ke kafe, memesan kopi, duduk, dan menjawab beberapa SMSyang masuk. Lalu menyesap kopi, menatap sekenanya ke plafon yang dicat hitam, dinding berwarna krem-muda, kaca-kaca, dan pohon plastik di satu sudut—sampai matanya membentur pada perempuan itu.

Dan ia tak tahu kapan perempuan itu masuk ke kafe, dan sudah berapa lama duduk di situ—di meja yang berjarak delapan meter darinya, dan hanya dipisahkan meja lain dengan tiga kursi. Perempuan dengan terusan cokelat sedikit di bawah lutut, bermotif daun, di balik semi-jas hitam dan scarf merah-kuning di leher. Sangat menarik! Dan ia merasa mengenali perempuan itu—atau pernah melihat wajah itu sebelumnya. Tapi dulu, dulu sekali. Rasanya bukan sebulan, beberapa bulan, atau setahun. Ia pernah melihat wajah itu hampir dua belas tahun yang lalu!

Ia lalu menengok ke sudut yang lain—pura-pura membaca banner yang ditaruh di samping konter. Waktu itu perempuan di depannya tiba-tiba mengangkat kepala. Lalu ia mengangkat cangkir dan menyesap cappuccino dengan tambahan sirup vanilla itu. Ada sebuah ingatan yang mengendap lama dalam memori otaknya, yang malam ini—entah kenapa—seperti mendesak-desak keluar. Sejenak ia teringat perempuan dengan rambut lurus-sebahu, berwajah lonjong, bibir agak lebar, dan berkulit bersih. Perempuan yang masuk ke restoran papanya hampir dua belas tahun lalu—bersama seorang lelaki dan anak perempuan, yang waktu datang bermuka merajuk. Perempuan dengan hidung lancip dan alis mata tebal—dua hal yang paling menarik baginya—di samping kulit perempuan itu yang bersih.

Dan selama bertahun-tahun ia telah mengingat hidung dan alis itu, yang tanpa disadarinya lalu mengendap dalam memori otaknya.Tetapi mungkinkah perempuan di depannya ini adalah perempuan itu—perempuan dua belas tahun yang lalu? Sejenak ia mengerutkan kening. Rambutnya memang lurus sebahu, berkulit bersih, dengan hidung lancip dan alis mata tebal. Tapi wajah itu kurang lonjong, dan bibirnya juga lebih kecil. Selain itu perempuan di depannya hampir seumur dengannya, sekitar awal dua puluhan—sedangkan perempuan dua belas tahun yang lalu saat ini seharusnya berumur empat puluhan, atau menjelang lima puluh.

Atau… jangan-jangan perempuan di depannya adalah anak perempuan yang juga dilihatnya waktu itu? Anak perempuan kurus, dengan rambut poni dan dikuncir dua? Tetapi rasanya aneh juga, karena dulu anak perempuan itu berkulit agak kemerahan, dan tak ada tanda-tanda hidung lancip atau alis mata tebal. Hanya saja bibirnya memang lebih kecil dan wajahnya bulat. Mungkinkah waktu dua belas tahun akan mengubah penampilan seseorang?

Perempuan di depannya terus menatap ke laptop. Kopinya sejak tadi tak tersentuh. Ia lalu sedikit menundukkan mata. Dalam jarak delapan meter itu—dan dengan posisi di mana perempuan di depannya menatap ke laptop—sangat mungkin perempuan itu tiba-tiba memandang ke arahnya, tanpa ia sadari. Dan ia tak mau kepergok dengan cara ini! Dua belas tahun yang lalu ia berkata pada papanya, setelah ia menemukan jaket warna merah-dadu di kursi yang sebelumnya diduduki perempuan itu.

“Jaket siapa ini, Pa?”

“Ah, pasti jaket anak perempuan itu! Kita simpan saja. Mudah-mudahan mereka kembali.”

Setengah jam kemudian ia bertanya lagi pada papanya.

“Papa lihat yoyo-ku nggak?”

“Lho, di mana kamu taruh?”

Tetapi dua belas tahun yang lalu perempuan, atau anak perempuan, itu tak kembali ke restoran papanya. Sebulan, dua bulan, lalu tiga bulan. Sampai papanya menutup restoran pada bulan keempat, karena papanya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan besar—setelah hampir dua tahun menjalankan restoran itu. Waktu itu ia berumur tiga belas tahun….

Ia tersentak ketika seorang lelaki mendekat ke arah perempuan di depannya, lalu menyentuh pelan dari belakang. Perempuan di depannya berbalik, lalu tersenyum—dan lelaki ini membungkuk dan mencium pipinya. Ah… apakah lelaki ini juga lelaki yang dilihatnya dua belas tahun lalu? Kali ini ia yakin tidak, karena lelaki ini bertubuh tinggi, berwajah ramah, dan kelihatan sangat cerdas. Sedangkan lelaki yang dulu bertubuh tambun, agak botak, angkuh, dan kelihatan bodoh!

Ia lalu menghabiskan tegukan terakhir kopinya. SMS yang ia tunggu sejak tadi sudah masuk. Nana sudah terbang dari Surabaya, dan satu jam lagi akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Dari kafe ini, setidaknya ia butuh empat puluh lima menit sebelum sampai di bandara.

19.49

Di pelataran parkir, waktu mengundurkan mobilnya, ia melihat tas belanjaan dari kertas di jok belakang. Ia lalu tersenyum. Tas belanjaan itu berisi jaket merah-dadu, yang disimpannya sejak dua belas tahun lalu. Sebelum ditaruh di mobil ini, jaket itu mula-mula disimpan di restoran papanya, lalu di kamarnya—dan tiap kali hanya berganti tas belanjaan jika rusak, atau berpindah tempat dari jok samping ke jok belakang. Nana pernah bertanya jaket siapa itu, dan ia menjawab itu jaket adik perempuannya waktu berumur sebelas tahun. Ketika itu Nana tersenyum, dan berkata ia tak perlu seperti itu. Meskipun ia sangat menyayangi adik perempuannya, yang sekarang kuliah di Belanda, ia tetap tak perlu begitu. Tetapi sejak ia tak menjawab komentar itu, Nana tak berkata apa-apa lagi….


19.27

Lelaki itu di depannya—di meja yang berjarak hampir delapan meter darinya—dan sejak tadi memandang ke arahnya.

Ia baru menyadari dua puluh menit kemudian—sejak ia masuk ke kafe, memesan cappuccino dengan tambahan sirop vanila, duduk, dan membuka laptop. Lalu setelah beberapa saat, ia menatap ke dinding berwarna krem-muda, alur-alur lampu yang membuat kafe sangat membetahkan, dan lukisan mural di sisi dinding yang lain—sampai matanya membentur pada lelaki itu.

Mula-mula ia agak gerah. Teman-temannya semasa kuliah, atau sekarang setelah ia bekerja, selalu bercerita dengan tawa renyah jika ada lelaki yang melirik penampilan mereka. Rasanya bangga sekali! Tetapi itu tidak berlaku bagi dirinya. Ia selalu merasa jengah. Lalu ia sadar lelaki itu berdiri di depannya waktu mengantre di konter, dan rasanya ia mengenali lelaki itu. Ia pernah melihat wajah itu—suatu waktu, tapi sudah lama sekali. Lama sekali….

Mulanya ia ragu. Lalu ketika lelaki itu menengok ke arah konter, dan tersenyum, ia mulai yakin. Juga waktu lelaki itu mengangkat cangkir kopinya.Ya, senyum itu! Senyum yang manis—dan tak gampang dilupakan! Dan cara mengangkat cangkir yang aneh—seolah takut cangkir itu jatuh—tapi juga tak gampang dilupakan. Ada sebuah ingatan yang mengendap lama dalam memori otaknya, yang malam ini seperti mendesak-desak untuk keluar. Sejenak ia teringat anak lelaki yang tersenyum manis saat ia dan papa-mamanya mampir ke sebuah restoran hampir dua belas tahun lalu! Anak lelaki yang mungkin sedikit lebih tua darinya, berbadan gemuk, berambut ikal, dengan kulit agak gelap dan wajah bulat. Tetapi yang paling menarik baginya dari anak lelaki itu adalah caranya tersenyum. Selama bertahun-tahun ia telah mengingat senyum itu—yang tanpa disadari lalu mengendap dalam memori otaknya. Tetapi benarkah lelaki di depannya adalah anak lelaki itu—anak lelaki hampir dua belas tahun yang lalu? Lelaki di depannya ini memang hampir seumur dengannya. Rambutnya ikal, berkulit agak gelap, tapi wajahnya lonjong dengan dagu lancip. Tubuhnya juga tidak kelihatan gemuk, dalam balutan kemeja khaki yang digulung sampai lengan dan celana warna gelap. Ah, mungkinkah dulu wajah itu bulat karena tubuhnya gemuk?

Tetapi senyum itu…. Ia tak mungkin keliru! Selama dua belas tahun ia tak pernah melihat senyum yang sama pada wajah lain. Senyum yang membuat bibir itu melebar, mata menyipit, tulang pipi seolah tertarik, dan hidung agak mengembang….

Ia lalu pura-pura memelototi laptop, ketika lelaki itu tiba-tiba menatap ke arahnya. Ia tak mau kepergok sedang mengamat-amati seorang lelaki. Setidaknya tidak dengan cara ini! Tetapi dua belas tahun lalu, anak lelaki dengan senyum manis itu juga beberapa kali memandang ke arahnya. Waktu itu ia duduk di dekat mamanya—dan tiap kali ia menatap balik, anak lelaki itu selalu menghindar. Dua belas tahun yang lalu, sepulang dari restoran, ia berkata pada mamanya.

“Mama lihat jaketku?”

“Lho, bukannya tadi kamu pakai?”

Dan ia cemberut, dan terus cemberut sepanjang sore itu. Tetapi malam itu ia menemukan yoyo di dalam ransel kecilnya. Mulanya ia bingung. Lalu ia mengingat-ingat, kapan terakhir kali ia memasukkan barang ke dalam ransel. Ya! Tadi siang, selesai makan, bukankah ia pindah ke meja yang lain? Dan ia mengeluarkan seisi ransel—mulai dari kertas, pensil, pensil warna, dan penghapus. Lalu mencoret-coret—sampai mamanya memanggil, dan buru-buru ia memasukkan lagi barang-barang itu ke dalam ransel.

Kalau begitu, ini pasti yoyo anak lelaki itu! Sejak hari itu beberapa kali ia merengek pada mamanya—minta kembali ke restoran itu. Ia juga meminta pada papanya. Tetapi baik papa maupun mamanya selalu menjawab nanti. Ia tak pernah mengutarakan alasannya—hanya saja ia ingin cepat mengembalikan yoyo itu. Empat bulan kemudian—ketika ia dan papa-mamanya benar-benar kembali ke restoran itu—nyatanya restoran itu sudah tutup.Waktu itu ia berumur sebelas tahun….

Ia tersentak ketika ada yang menyentuh bahunya dari belakang. Ia menoleh, lalu tersenyum. Hans membungkuk dan mencium pipinya.

“Sudah lama?”

Sejenak ia merasa pipinya panas, apalagi satu-dua tamu kafe melirik ke arahnya. Hans memang penuh ekspresi. Mungkin karena ia lama di Amerika Serikat. Hans yang baik. Lulusan ekonomi University of Wisconsin, dengan summa cum laude. Sebetulnya, sebelum ia diwisuda, banyak perusahaan di Amerika Serikat yang mau merekrutnya, bahkan ada yang menawarinya bea siswa penuh. Tetapi Hans memilih kembali ke Indonesia. Dan ia bahagia karena Hans juga memilih dirinya.

Ketika Hans berjalan ke konter untuk memesan kopi, ia melirik ke meja lelaki itu. Tapi meja itu sudah kosong….

20.31

Di pelataran parkir, waktu ia mengundurkan mobilnya, Hans bertanya dengan takjub.

“Kau masih menyimpan yoyo ini?”

Waktu itu Hans baru saja mengobrak-abrik laci dasbor mobilnya, mencari CD.

Ia tak menjawab. Hans lalu tersenyum.

“Sudahlah, kau tak perlu begitu. Adik lelakimu itu sudah besar.

Sekarang ia kuliah di Singapura, dan mungkin ia sendiri tak terlalu memikirkan kakak perempuannya.”

Bukan pertama kalinya Hans berkata seperti itu, dan bukan pertama kalinya pula ia hanya tersenyum. Pertama kali Hans bertanya, ia menjawab itu yoyo adik lelakinya, yang lima tahun lebih muda darinya. Ia telah menyimpan yoyo itu selama hampir dua belas tahun. Mula-mula disimpan di kamarnya, lalu di dalam tasnya, dan sekarang di laci dasbor mobilnya.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Tamu Dari Masa Lalu
CERPEN KAFE OLEH WENDOKO CERPEN KAFE OLEH WENDOKO Reviewed by Ai No Hikari on 12:47 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.