loading...

KUMPULAN PUISI DWI ERY SANTOSO

MATAHARI DAN BONEKA

Bumi yang dilindungi angin pun
tak pernah menampik cahaya karena tahu
bumi adalah panggung pentas boneka - boneka
tapi bukan pohon-pohon, tapi bukan hewan-hewan
karena tak dibekali fantasi dan fikiran
betapa kearifan daun-daun begitu santun
mengucapkan selamat datang kepada sang cahaya
hewan-hewan pun menyantap lahap daun – daun
agar mereka tahu, begitu besarnya kearifan matahari
begitulah pohon-pohon dan hewan-hewan bicara tentang matahari
tetapi tak jarang setia menghitung peristiwa itu
kearifan dikhianati, matahari didzolimi meski setiap pagi
tak henti menyapa buana, boneka-bonekapun leluasa bergaya
begitulah watak dan jiwa boneka-boneka dilasoh dalangnya
keperkasannya kadang membuat boneka-boneka
menjadi keras kepala angkuh dan sombong,
karena tak mau meniru karakter daun-daun hijau
apa lagi belajar pada hewan-hewan
yang mengolah daun-daun menjadi lebih bergizi
dan menaikan derajat daun-daun
tidak seperti boneka-boneka lebih suka menjelma jadi
bunga kertas pada Vas menghias meja-meja persidangan
bunga-bunga kertas itu, memang bergaya tapi tak punya aura
hanya warna dan ujudnya dalam keindahan-keindahan palsu
celakanya di hotel-hotel berbintang di pemukiman orang-orang
suka memajang menjadi hiasan karena tak repot untuk menyiram
menolak pot – pot bunga bertanah dan berakar tetapi gemar celoteh
dan bicara hingga urung berlari mengejar matahari
sengaja membiarkan luput dari tangan – tangan nurani
yang bebal dan angkuh miskin –hati
tak membuat perubahan, tak seperti daun – daun dan hewan – hewan
begitu bijaksana mengejawantah matahari
yang merubah cahaya menjadi natura basah
bagi orang-orang yang menangkap hidayah
tak seperti boneka-boneka bergerak saja susah
apalagi menangkap impian yang indah
karena sesungguhnya boneka tak punya rasa
tak punya jiwa dan siapakah sebenarnya boneka.

Baca: Kumpulan Puisi Khalil Gibran

BARANANG SIANG

Lewat terminal lutut begitu pegal
karena trotoar direbut bermacam penjual
bukan pula begitu jauhnya puncak dari terminal
muskil ditempuh jalan kaki, meski romantisme liburan
berjalan-jalan dengan aksesories tas punggung, ketuaan
tak ada tempat untuk mengurung diri apalagi berapologi
kota-kota persinggahan tak lebih dari catatan kenangan demi kenangan
meneruskan perjalanan, sama halnya mencari arah tujuan kemana langkah
mesti dilanjutkan, taxi taxi kota berseliweran
menawarkan jasa perjalanan mempercepat ke arah tujuan,
oh bogor bukan tegal kesohor dengan sate kambing
fantasi keramahan jalan raya puncak berpaling
hilang sesaat, teryata bogor bukan bandung
atau kota-kota besar di jawa tengah
terperengah juga karena bogor
bukan kota solo apalagi semarang
baronang siang lewat sudah, senja datang terasa begitu kerontang
jalan raya puncakpun terus meraung-meraung , tapi apa lacur di kata
setelah masuk ke area kawasan resort
sopir berkilah masih untung anda kebawa ke puncak raya
dibalut keramahan tak selamanya menjadi kelegaan
apalagi kenyamanan ternyata taxi tak lagi jujur
tak seramah sapaan lembut gadis cianjur
tak seperti pria lilin yang maskulin
pengalaman lebih sering diawali jadi korban penipuan
sebelum pada akhirnya orang sering bikin kecewa
dari janjinya, betapapun mengorbankan keramahan adat sekalipun
kita memang sering terjebak dan tersesat
karena keterbatasan selalu jadi ketergantungan
seperti trotoar yang dipadati pedagang
sang pejalan kakipun tersisih hatinya perih,
maka lensa hatipun lebih jernih,
memotret sebuah kota,
maka kita bilang tipu daya ada dimana – mana
sebelum pada akhirnya kita terus bertanya - tanya
apapun jawabannya

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi anda inspirasi. Baca juga Puisi untuk Ayah Oleh Pramoedya Ananta Toer
KUMPULAN PUISI DWI ERY SANTOSO KUMPULAN PUISI DWI ERY SANTOSO Reviewed by Ai No Hikari on 6:45 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.