BIOGRAFI AGUS NOOR


Agus Noor
image Andreas
Agus Noor merupakan sastrawan yang lahir di Kecamatan Margasari, Tegal, Jawa Tengah 26 Juni 1968. Memiliki latar belakang pendidikan jurusan Teater, Institur Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Walaupun pendidikannya yang beraliran seni tapi kemampuannya dalam menulis berhasil membawa namanya tenar. Agus biasa menghasilkan karya berwujud cerpen, prosa, dan naskah panggung dengan gaya khas mengkritik. Salah satu karyanya yang menarik perhatian stasiun televise yaitu Metro TV hingga menjadi salah satu program tayang bernama Sentilan Sentilun. Karyanya ini di pilih dari berupa monolog yang berjudul Matinya Sang Kritikus. Yang sebelumnya penah dipentaskan di sejumlah kota oleh Butet Kertaradiasa. 

Karyanya yang lain masih berbaur dengan kritikan. Agus menggarapnya dengan Ayu Utami, sebuah naskah Sidang Susila yang ditujukan pada Rancangan Undang Undang Anti-Pornografi. Karyanya selain prosa adalah kumpulan cerpen dimuat dalam Antologi Ambang (1992), Pagelarang (1993), Lukisan Matahari (1994). Antologinya yang dimuat bersama Lampor (cerpen pilihan Kompas, 1994), Jalan Asmaradana (Cerpen pilihan kompas, 2005) Kitab Horison Sastra Indonesia (Mjalah Horson dan The Ford Foundation 2002), dan dari Pemburu ke Tapuetik (Majalah Sastra Asia Tenggara dan Pusat Bahasa 2005).

Agus merasa kaku saat menulis puisi hingga akhirnya selama 20 tahun lewat kumpulan puisinya berhasil di terbitkan Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan. Dia menuturkan “Sejak awal, saya memang bermasalah dengan puisi. “ lanjutnya kembali “Tak banyak yang tahu, pada awal proses kreatif saya, saya menulis puisi. Bahkan beberapa puisi saya, sempat terbit di Koran, seperti Bernas, Pikiran Rakyat, Media Indonesia dan lainnya. Tapi kemudian saya merasa ada yang tidak nyaman dalam diri saya. Saya seperti tidak menemukan kegembiraan, ketika menulis puisi. Di hadapan puisi yang tampak agung dan sakral di mata saya. Saya seperti tidak mampu rileks. Saya berhadapan dengan puisi dengan penuh ketegangan. Saat itulah, Linus Suryadi AG (almarhum) menyarankan saya untuk menulis prosa, sebagai rekreasi berbahasa mencairkan ketegangan saya. Tapi, kemudian, saya malah keterusan. Ketika saya menulis puisi akhirnya hanya saya simpan dalam file, dan saya nikmati sendiri. Juga kadang, saya memperlakukannya sebagai upaya mengeksplorasi cara berhasa saya, yang kemudian saya munculkan dalam prosa saya.”
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga bioragrafi Raditya Dika
BIOGRAFI AGUS NOOR BIOGRAFI AGUS NOOR Reviewed by Ai No Hikari on 11:16 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.