loading...

CERPEN KAFE, IMPRESI OLEH WENDOKO


secangking kopi dari kafe
image Shutterstock
Kafe adalah tempat perhentian. Tempat orang-orang bertemu atau singgah, pada satu jeda waktu. Tetapi pernahkah kau berpikir, berapa orang di kafe yang saling mengenal? Berapa banyak yang tak mengenal? Orang-orang selalu datang ke kafe, lalu duduk—sendiri atau mengelompok—dan berceloteh, pada satu jeda waktu. Atau hanya duduk diam, menyeruput kopi, dan mengamati sebelum akhirnya pergi lagi. Begitu banyak yang terjadi. Seperti waktu dan penggal peristiwa yang datang dan pergi.

Dan di kafe aku bertemu banyak orang, setiap hari. Orang-orang yang sama, dan berbeda. Kadang waktu aku berhenti di depan barista, atau ketika mengangkat muka dan melihat seseorang melintas. Atau ketika saling menatap dengan orang di seberang meja—seolah mengenali—untuk waktu sedikit lebih lama.

Aku katakan orang-orang yang sama, dan berbeda. Kadang orang yang sama, yang pernah singgah, kembali ke kafe. Ia akan datang pada jam yang hampir sama, meminta kopi yang sama, duduk di meja yang sama lalu berkutat dengan laptopuntuk waktu yang lama. Kadang ia datang dengan tatanan rambut yang baru diubah, dengan pasangan lain, memesan kopi yang lain, lalu duduk atau berceloteh—tapi selalu berlarat-larat untuk segelas kopi.

Aku katakan, orang-orang yang sama—dan berbeda. Kadang orang yang sama tak kembali ke kafe. Orang lain yang datang, yang melewati pintu kaca, satu-satunya pintu kaca. Ia akan datang pada jam yang acak, tapi selalu mengulang adegan yang sama. Memesan kopi, menunggu di konter pengambilan, duduk diam atau berceloteh, berkutat dengan laptop atau telepon genggam, lalu mengotori meja dengan tisu, kertas gula, sedotan, dan kadang tumpahan kopi….

14 MEI.

Pintu kaca itu selalu membuka ke dalam, ketika seseorang mendorong atau menarik—mendorong untuk masuk atau menarik waktu keluar dari kafe.

Kafe tak terlalu penuh. Ada dua anak tanggung di meja dan bangku kayu. Lelaki dan perempuan berjejer di sofa jingga-ungu, di dekat palem kerdil dan rumput plastik dalam pot kayu. Lalu, di sudut yang agak redup perempuan itu termangu. Perempuan bersetelan Chanel warna gelap tapi bukan hitam, yang sesekali menyeruput kopi, dan menyeka mulut. Wajahnya agak bulat dengan rambut legam berserat cokelat dan mata agak sipit dan sedikit menukik di ujung dekat alis.

Tetapi aku tahu, sebulan yang lalu dua lelaki duduk di meja dan bangku kayu. Bercakap dalam suara rendah—lalu diam, sampai kafe hampir tutup. Dua anak tanggung bermain kartu di sofa jingga-ungu, sampai dua anak tanggung lain muncul di kafe. Di sudut yang agak redup, ada lelaki memesan dua gelas kopi. Lelaki dengan ujung kemeja menyembul, dan berdasi miring dengan manset. Wajahnya gembung, dan ia terus menelepon, dengan hanya satu gelas kopi, sebelum bergegas keluar dari kafe.

Kadang aku berpikir, orang-orang hanya masuk ke kafe, tapi tak pernah benar-benar keluar dari kafe. Seolah ada yang tertinggal pada dinding-dinding berwarna krem-muda, plafon cokelat-hitam, lantai separuh kayu dan separuh keramik dan karpet. Atau pada fasade kaca yang membingkai lanskap kota—dengan langit yang meleleh waktu hujan, gelap dan terang bertubrukan, bintik-bintik cahaya yang diam atau melingkar. Seolah coretan di sebuah kanvas berwarna hitam.

Dan pintu kaca itu selalu membuka ke dalam….

Di depanku ada caffe latte. “Campuran 1/3 espresso dan 2/3 susu,” kata barista waktu menyorongkan kopi dengan busa tipis sampai ke bibir cangkir. Lalu ada jazz menyeruak di ruang beraroma kopi—di tengah gradasi lampu-lampu, jingga dan kuning.

14 JUNI.

Kafe agak penuh. Suara-suara bergaung di setiap sudut—tapi tak ada yang kudengar utuh. Hampir tak ada bangku kosong. Di dekat kaca, seorang perempuan dengan rambut berserat marun dan kaos yang terbelah di bahu. Di depannya perempuan berkawat gigi dan berambut bop. Ada perempuan dengan anting-anting seukuran gelang, yang berkedip dalam cahaya lampu. Di dekat konter, seorang lelaki dengan pipi mengendur dan rambut tipis di kening yang sedikit berkerut.

Aku terus mengaduk caramel macchiato sambil mengamati warna putih-keruh di dasar gelas. Kukira itu steamed milk, yang perlahan menjernihkan warna espresso. Di muka gelas ada taburan serbuk cokelat, di tengah busa susu. Aku terus mengaduk dengan sedotan sampai susu bercampur, dan tinggal warna cokelat yang lembut.

Aku lalu menyesap kopi itu. Manis. Lebih manis dari cappuccino es.

Di sampingku, seorang lelaki tambun berkaos Lacoste dan celana Cinos. Rambutnya sudah mundur ke ubun-ubun. Mukanya gemuk, dengan kacamata plus. Sedari tadi kepalanya menggeleng, lalu mengangguk. Kakinya mengetuk-ngetuk, sesekali mulutnya melenguh. Ada earphone di telinganya yang juga gemuk.

Tetapi di depanku, di sudut yang agak redup—kulihat perempuan itu. Eh, bukankah perempuan itu juga duduk di sudut itu sebulan yang lalu? Malam ini ia bercelana jins hitam, dengan kaos biru-pekat di balik blazer hitam. Sedari tadi ia kelihatan merenung di bawah dinding cetakan mural di balik dua camgkir keramik mungil di meja. Tapi kopi apa yang diseduhnya dalam dua cangkir itu?

Aku terus mengaduk kopi. Warna cokelat lalu memudar, tapi masih ada endapan susu di dasar gelas. Kopiku tinggal setengah, tapi perempuan itu tak juga menyesap kopinya. Waktu aku masuk, rasanya ia sudah ada di kafe—dan aku lalu mengamati wajahnya yang putih dengan hidung agak mencuat. Tapi dua cangkir di atas meja? Adakah yang ia tunggu, malam ini?

14 JULI.

“Ini kopi konsentrat, yang didapat dengan menyemburkan air panas. Hasilnya, cairan mirip sirop yang kental. Larutan lebih padat, dan crema, busa cokelat kemerahan yang mengambang di permukaan.” Aku lalu mengamati espresso dalam cangkir.

“…Kadar kafein kopi ini juga sangat tinggi. Satu ons cairan setara 1/3 kafein kopi lain dalam cangkir enam ons cair. Ibaratnya kopi tapi tak diseduh dengan air atau susu. Ini hanya satu shot.”

Aku lalu menyesap kopi itu. Agak pahit, dan waktu kuteguk ada rasa atau aroma asam yang tertahan di mulut.


Terdengar Miles Davis menyodokkan Summertime dengan trompet yang melantur, tapi mendesak. Ada ketukan-ketukan drum pada latar, yang menyendat. Satu kerangka musik dalam skala yang seperti pentatonik kukira, dan bernada A minor. Ada progresi harmoni yang lambat, menyarankan blues. Ada juga anasir lagu rakyat pada suara-suara yang seolah menyelusup angin itu. Lalu kulihat lagi perempuan itu. Perempuan yang duduk sendiri, di sudut yang agak redup. Aku teringat, sebulan yang lalu ia juga duduk di sudut itu, diam, tapi tak menyeruput kopi.

“Perempuan itu sering kemari,” kata barista waktu mengantarkan cairan gula. “Dan duduk di sudut itu. Ia tak mau bangku atau sofa lain. Selalu begitu. Ia akan datang pada jam yang sama, tanggal yang sama, dan memesan dua espresso. Tapi ia tak menunggu siapa pun. Tak menelepon atau bicara pada seorang pun. Ia hanya duduk, dan meneguk satu cangkir. Pernah sekali, waktu ia muncul, sudut itu sudah ditempati pelanggan lain. Ia berbalik, lalu pergi…. Ah, kau juga memesan espresso malam ini?”

Aku lalu memandang perempuan itu. Malam ini wajah bulatnya agak redup. Mungkin karena ia duduk tegak dalam temaram lampu. Ia memakai blazer warna gelap, dan rok yang tertarik ke lutut waktu menyilangkan kaki. Di baliknya blus dengan satu kancing terbuka, memperlihatkan kalung di lehernya yang putih. Sedari tadi ia menatap ke satu titik di kafe, ke fasad kaca yang digelayuti gelap. Di luar hujan melompat liar, memukul-mukul kaca, pecah, lalu mencair.

Aku masih mengamati perempuan itu—meneliti wajahnya di tiap sudut. Juga waktu ia mengusap mulut dengan tisu. Kata orang, sekali kau dilukai, kau akan mampu melihat luka orang lain. Dan wajah itu seperti membuka diri, lapis demi lapis.

Malam terlamunkan di cangkir kopi….

14 AGUSTUS.

Kopi ini agak pahit, seperti kopi hitam tapi tanpa ampas. Warnanya juga cokelat-hitam—dalam gelas kertas merah-cokelat.

“Americano. Ini espresso yang diseduh dengan air panas. Satu atau dua shots dalam 16 ons air. Americano itu menghilangkan crema. Sama kuatnya dengan drip coffee, tapi berbeda rasa. Ada banyak varian. Lungo misalnya, yang mengekstraksi espresso untuk waktu lebih lama dan dengan lebih banyak air. Atau red eye, seperti drip coffee tapi tak diseduh air panas.”

“Kau tak takut aku mencuri resep-resep ini?”

Barista itu tersenyum, “Sobat, kau bisa membaca di mana saja. Tapi tiap kafe punya ramuan sendiri. Juga soal kecakapan si peramu, aku sendiri.”

Tapi malam ini ada yang berubah di kafe. Ada lemari-lemari merapat ke dinding berisi gelas dan cangkir. Lalu tumbler dan coffee press dalam aneka bentuk dan ukuran. Di dinding samping cetakan mural, ada potret hitam-putih. Juga lukisan bermotif batik. Selebihnya hanya aneka sofa dan kursi yang ditata dalam pola lingkar baris.

Kafe agak kosong. Perempuan muda dengan kereta bayi di meja dekat pintu. Perempuan lain membaca buku di dekat partisi lengkung. Ia berkaos turtleneck warna ungu, yang terus ditarik-tariknya selagi ia membaca buku. Rambutnya digelung. Hidungnya agak bengkok, dengan pahatan tulang pipi yang menonjol. Jari-jarinya berderap di tepi cangkir, yang mengepul.

Di sampingnya seorang lelaki termangu. Lelaki berotot, berambut cepak, dan sedikit berjanggut. Lehernya menjulur di balik dasi hitam dan kemeja marun. Ia juga membaca dengan mata mengernyit di balik kacamata tanduk.

Perempuan yang membaca buku mulai menyeruput kopi. Lelaki di sampingnya lalu menggeser kursi. Tapi buku apa yang dibacanya sejak tadi? Eh, Sex and the City!.

SEKARANG, 14 OKTOBER.

Tapi kenapa ada bau rokok di kafe?

Hampir jam 8. Lampu-lampu menyorot di fasad kaca. Juga di pilar-pilar dan dinding krem-muda yang buram. Di muka konter pengambilan, lima anak tanggung di tiga meja yang terpisah masing-masing dengan laptop di meja. Dua perempuan di sofa bundar terus menelepon, berbicara terlalu cepat atau seperti terengah.

Terdengar trompet Miles melantunkan Boplicity, di sela saksofon dan trombon. Satu kerangka musik dalam harmonisasi alat tiup. Piano hanya muncul pada 1/3 terakhir lagu, dengan latar drum yang jauh. Sebuah cool jazz yang rileks, mengalir dalam struktur yang berkelok. Agak ketinggalan pada beat, dengan suara-suara teredam, yang terpola menguatkan akor.

Tapi kenapa ada bau rokok di kafe?

Di luar kafe, malam bertambah gelap pada langit yang dipenuhi lekuk-lekuk awan, yang lebih pucat. Cahaya membercak di rumput, helai daun, dan pelataran yang basah. Tapi ada kelengangan merangkak di dinding kaca. Lewat decit rem, klakson, aliran mobil, gedung-gedung memagar langit, atau siluet orang lalu-lalang tak bersuara.

Lalu ketukan-ketukan drum. Lalu dengung organ dan suara-suara berkelindan. Ada saat drum menghilang dan organ melambat. Saksofon menyodok perlahan. Lalu trompet, dan suara-suara undur ke belakang. Piano dan drum mendedas. Organ mendengung pada nada yang datar. Irama yang kaku, bergoyang tapi tak mengayun. Miles memainkan In a Silent Way yang kental dengan warna rock. Bukan rock, tapi tidak juga jazz yang biasa. Ada elemen sonata klasik. Tapi suara-suara kadang berselisih dalam irama tak standar dan bertumpu pada ekspresi. Suara yang tumpang-tindih. Begitu banyak suara, seolah muncul dari balik kepala. Sebuah gema, dalam disonansi yang retak mengendap, seolah kau masuk ke lorong saat subuh jam 3.

Tapi kenapa ada bau rokok di kafe?

…Eh, lama aku tak melihat perempuan yang duduk di sudut yang agak redup itu.

“Sejak malam itu, waktu kau memesan espresso, ia tak kembali ke kafe,” kata barista, yang malam ini bertopi bisbol dan bercelemek cokelat-karamel. Hampir jam 9.

“Tapi ia menitipkan kunci di konter, malam itu.”

“Kunci….”

“Ya. Katanya seorang lelaki akan mengambilnya.”

Aku lalu teringat My Blueberry Nights. Hmm, kapan sebetulnya aku pernah menonton film itu?
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Sipleg
CERPEN KAFE, IMPRESI OLEH WENDOKO CERPEN KAFE, IMPRESI OLEH WENDOKO Reviewed by Ai No Hikari on 11:37 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.